Jumat, 04 Mei 2018

Israel Kuasai Pariwisata di Al-Quds

Israel Kuasai Pariwisata di Al-Quds
BeritaPalestina.com - Penjajah Zionis menguasai sebagian besar dan penting sumber pariwisata di al-Quds. Seperti pagar kota dan bentengnya, museum arkeologi Palestina, terowongan bawah tanah, Gua Sulaiman dan kanal air. Semua itu dilakukan dalam kerangka perang dalam bentuk lain terhadap warisan agama, peradaban dan sejarah kota al-Quds.

Kota Yerusalem, di lorong-lorong, jalan-jalan dan gang-gangnya, memiliki banyak tempat religius seperti gereja, masjid, biara dan takaya, serta banyak tempat suci, kuil, museum dan perpustakaan.

Sementara itu penjajah Zionis menolak memberi izin untuk pendirian atau perluasan hotel-hotel milik warga al-Quds dan memberi mereka fasiltias finansial dari bank. Di saat yang sama penjajah Zionis memberi preferensi kompetitif untuk sektor pariwisata Zionis seperti hutang jangka panjang dan pengampunan pajak.

Ketua Asosiasi Pariwisata al-Quds di kota al-Quds, Raed Sa’adah, mengatakan, “Israel menguasai program pariwisata di al-Quds. Karena al-Quds merupakan jantung pariwisata Palesteina maka ada tren pada penjajah Zionis untuk memarginalkan institusi ekonomi Palestina di al-Quds karena berada di bawah kendali Zionis dan dirubah menjadi semacam lorong seperti yang terjadi di kota Jaffa. Yang dulunya adalah kota yang penting dan menjadi sebuah lorong dan bagian dari Tel Aviv. Hari ini para investor Zionis di Jaffa setuju untuk berinvestasi, untuk itu produk yang dihasilkan menjadi produk Zionis.”



Kepada Pusat Informasi Palestina, Raed Sa’adah menyatakan bahwa penjajah Zionis berusaha menerapkan ekspesimen ini pada kota al-Quds melalui sejumlah tahap. Di antara yang paling penting adalah peminggiran, pencaplokan, israelisasi dan pengusiran dengan mengganti modal investor dengan modal Zionis, membeli situs-situs di daerah yang menjadi target, yaitu Kota Tua dan sekitarnya.

Hotel

Raed Sa’adah menjelaskan bahwa penjajah Zionis berusaha menarget daerah Kota Tua, agar pariwisata Palestina tidak berkembang. Contoh paling besar adalah keberadaan hotel yang tinggal 20 buah saja dari total 40 hotel. Dia menyatakan bahwa penjajah Zionis menjamin tetap berjalannya program pariwisata Zionis.

Menurut Raed Sa’adah, jumlah petunjuk pariwisata Israel mencapai sekitar 7 ribu, sementara petunjuk pariwisata Palestina hanya 250. Dia melihat, “Hotel-hotel Zionis yang didirikan beberapa tahun terakhir di batas pemisah antara dua sisi kota al-Quds sekarang ini bersaing dengan hotel-hotel Arab di al-Quds timur.”

Melawan Rencana Israel

Yang harus dilakukan Palestina untuk menghadapi kontrol penjajah Zionis terhadap pariwisata di al-Quds, yang pertama adalah memusatkan kembali pariwisata dan kebudayaan di al-Quds. Untuk melaksanakan itu harus dibangun lembaga yang mengaktifkan dan menggiatkan pariwisata di kota al-Quds.

Yang kedua harus fokus pada identitas palestina, menyiapkan program dan investasi dalam kualitas pelayanan, sehingga kredibilitas pelayanan pariwisata al-Quds (Palestina) mendapatkan reputasi yang baik di kalangan para wisatawan dan mempromosikan program pariwisata Palestina.

 Sekjen Badan Islam Kristen untuk Membela al-Quds dan Tempat-tempat Suci, Hana Isa, meminta untuk dilakukan penyegaran kembali dan dukungan pada sektor pariwisata di kota al-Quds. Hal itu harus dilakukan untuk menghadapi kebijakan penjajah Zionis, otoritas dan rencana yahudisasinya terhadap kota suci al-Quds.

Dia memperingatkan bahwa kota al-Quds sudah menjadi kota semi tertutup, yang tidak bisa dimasuki kecuali oleh mereka yang diinginkan penjajah Zionis untuk masuk. Dia mengatakan, “Berlanjutnya pendudukan (penjajahan) adalah hambatan terpenting yang dihadapi pertumbuhan sektor pariwisata di al-Quds dan tanah Palestina secara umum. Berlanjutnya pendudukan ini menghalangi pemanfaatan sumber daya pariwisata di al-Quds. Karena itu, hilangnya pendudukan adalah syarat utama untuk mengaitkan sektor pariwisata dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan.”

Hana Isa menambahkan, “Sektor pariwisata di al-Quds adalah sumber rizki bagi sejumlah besar pedagang di al-Quds. Karena perdagangan mereka bergantung kepada dua jenis pariwisata. Yang pertama adalah periwisata internal. Di mana para wisatawan lokal dari semua desa dan kota sekitar berdatangan ke kota al-Quds. Kota al-Quds bergantung pada daya beli mereka yang bisa menyegarkan ekonomi di kota al-Quds. Yang kedua adalah parisisata eksternal. Baik dari sisi historis karena kota ini memiliki urgensi sepanjang masa. Dan dari sisi agama dan ini sangat penting. Karena kota ini merupakan tempat kelahiran tiga agama langit. Dua jenis pariwisata ini tetap menjadi jenis pariwisata yang menyejukan hati para pedagang al-Quds hingga tahun 1967 dan pendudukan kota al-Quds.”

Lebih lanjut dia mengatakan, “Kota al-Quds merupakan warisan agama, peradaban dan sejarah. Ada sekitar 742 situs, di antaranya 60 situs arkeologi utama dan sekitar 682 menumen peningngalan seperti makam, gua-gua, kanal-kanal dan kolam air serta fasilitas industri, dan ada lebih dari 700 bangnunan bersejarah, yang menjadikan kota al-Quds sebagai kiblat para wisatawan dari seluruh dunia, untuk mengatahui peradaban yang dang silih berganti, dan bangsa-bangsa yang tinggal di tempat suci di bumi ini.”

Isa menjelaskan bahwa pendudukan yang dilakukan penjajah Zionis "Israel" beserta komunitas dan koloni permukiman yang dibangunnya, serta tembok beton yang mengelilingi al-Quds dan kabel-kabelnya, telah mengganggu ketenangan kota dan kemegahannya, menghalangi keindahan kota dari dunia, agar menjadi kota eksklusif bagi orang Yahudi. Mereka bekerja siang dan malam untuk mencuri sejarah Arab kota al-Quds dan peradaban Islamnya, memalsukan taman-taman kota al-Quds dan monumen-monumennya agar kota al-Quds menjadi seperti yang mereka inginkan dan impikan, menjadi inkubator untuk kuil-kuil dan taman-taman Talmud mereka.

Isa menyatakan bahwa tindakan penjajah Zionis yang mengisolasi kota al-Quds dari sekitarnya pasca penandatanganan perjanjian Oslo tahun 1993, yang menunda persoalan kota al-Quds ke perundingan terakhir, telah menyebabkan penutupan sekitar 37 toko dan melemahkan daya belinya sampai 50%, yang menggambarkan kisah penderitaan sektor pariwisata di kota al-Quds. 

Artikel Terkait