Kamis, 03 Mei 2018

Mengenal Penjaga Terakhir Masjid Al-Aqsha dari Turki Utsmani

BeritaPalestina.com - Dia menolak perintah untuk mundur meninggalkan al-Quds dan kembali ke negerinya (Turki). “Karena al-Quds berada di atas perintah dan instruksi.” Beberapa dekade kemudian, ketika orang-orang bertanya kepadanya, yang tetap berdiri tegap tidak meninggalkan tempat penjagaannya, kenama Anda tiba kembali (pulang)? Dia menjawab, takut kalau Nabi Muhammad saw sedih karena dia meninggalkan penjagaan terhadap kiblat pertama dan tempat suci ketiga umat Islam tersebut.

Hasan Igdirli, lelaki berusia 93 ini adalah tentara terakhir Turki Ustmani yang meninggalkan masjid al-Aqsha, pada tahun 1982, bukan pulang ke negaranya, tapi ke pemakaman. Dia bertemu secara tidak sengaja dengan seorang wartawan Turki bernama Ilhan Bardakci di masjid al-Aqsha pada hari Jum’at tahun 1972. Kemudia dia tulis ceritanya dengan judul “Saya Mengenalnya di Masjid al-Aqsha”.

Bardakci mengatakan bahwa kala itu dia berjalan-jalan di al-Quds sampai tiba di depan pintu masjid al-Aqsha, tepatnya di “Area 12 Ribu Obor”. Sultan Yawoz Selim, ketika menggabungkan al-Quds ke dalam otoritasnya pada 30 Desember 1517, di hadir di Masjid Al-Aqsha. Dia mendapati shalat isya dalam keadaan gelap. Maka dia perintahkan pasukannya masing-masing prajurit menyalakan obor, jumlah mereka ada 12.000 tentara. Mereka semua shalat isya area tersebut di bawah penerangan obor. Maka dinamainya area atau halaman tersebut dengan nama ini. Demikian tulis jurnalis Turki tersebut.

Saat itu Bardakci melihat Kopral Hasan di depan halaman kedua. Ketika dia bertanya kepada pamandu siapa dia, katanya dia orang gila. Dia sudah ada di sini sejak bertahun-tahun dan berdiri di seperti patung. Tidak pernah bicara apapun dengan siapapun. Dia hanya melihat ke arah masjid. Bardakci mendekatinya dan mengucapkan salam dengan bahasa Turki, “Selamu Aleykum baba (ayah).” Disapa demikian, dia gerakan matanya berbinar-binar. Ia lalu menjawab salam dengan bahasa Anatolia dengan fasih, “Aleykum Selam oğul (wahai anakku)!” Sang wartawan kaget dengan jawabannya menggunakan bahasa tersebut, lantas bertanya tentang identitasnya.

Tiba-tiba Kopral Hasan berkata, “Ketika negara Utsmani jatuh, dan agar tidak terjadi penjarahan dan perampokan di kota – al-Quds – pasukan Turki meninggalkan satu unit tentara sampai pasukan Inggris memasuki al-Quds, (biasanya pasukan yang menang tidak memperlakukan unit tentara yang kalah diperlakukan sebagai tawanan seperti ketika bertemu mereka). Saya bersikeras agar saya menjadi salah satu anggota unit ini dan menolak untuk kembali ke negara saya. Saya adalah kopral Hasan dari Korps ke-20, Brigade ke-36, Batalyon ke-8, komandan Resimen senapan mesin ke-11.”

Kopral Hasan mengatakan, “Kami tinggal di al-Quds karena kami takut saudara-saudara kami di Palestina akan mengatakan bahwa negara Utsmani meninggalkan mereka. Kami ingin masjid al-Aqsha tidak menangis setelah 4 abad. Kami ingin sultannya para nabi, Nabi Muhammad saw, tidak bersedih. Kami tidak ingin dunia Islam berduka dan berkabung.”

Lebih lanjut Kopral Hasan menambahkan, “Kemudian setelah itu tahun-tahun yang panjang berlalu seperti kejapan mata. Semua teman-temanku sudah berpulang ke rahmat Allah satu demi satu (jumlah mereka ada lima puluh tiga orang), dan musuh-musuh tidak bisa menghabisi kami, tetapi taqdir dan kematian (yang mengakhiri kami).”

Al Quds Palestina


Kopral Hasan menyampaikan permintaan terakhir kepada Bardakci dan berkata, “Anakku, ketika kamu pulang ke Turki, pergilah ke desa Tokat Sanjak (daerah ini sekarang bernama Pontus, red). Di sana ada komandan saya, kapten Mustafa. Beliau yang menempatkan saya di sini sebagai penjaga masjid al-Aqsha dan meletakkan amanah di pundak saya. Cium tangannya untukku dan katakan kepadanya bahwa Kopral Hasan, komandan Resimen senapan mesin ke-11, masih tegap berdiri menjaga masjid al-Aqsha. Masih berdiri berjaga di tempat yang Anda tinggalkan sejak waktu itu. Dia belum pernah meninggalkan tugasnya untuk selamanya. Dia menginginkan doa-doa keberkahan Anda.”

Kopral Hasan tetap menjadi penjaga masjid al-Aqsha, meninggalkan tanah air dan rakyatnya. Di dalam hatinya ada keberanian, kesetiaan dan kebanggaan yang hanya diketahui oleh orang-orang terhormat. Namun kematian yang mengambil mereka satu per satu, telah mengambil dia pada tahun 1982, sehingga dia menjadi penjaga terakhir masjid al-Aqsha dari tentara Turki Utsmani. 



Artikel Terkait